MAHARATINEWS, Palangka Raya — Daya beli petani, peternak, dan nelayan di Kalimantan Tengah terpantau semakin membaik pada Juli 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) provinsi ini mencapai 136,95, naik 0,15 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Kepala BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Toto Haryanto Silitonga, mengungkapkan bahwa angka NTP di atas 100 menandakan kesejahteraan petani sudah cukup memadai.
“Setiap Rp100 yang dikeluarkan petani, peternak, nelayan itu akan mendapatkan 136. Kalau nilai tukar petani di atas 100, daya beli dari petani tersebut sudah dikatakan cukup memadai,” ujarnya saat rilis berita statistik di kantor BPS Kalteng, Senin (3/8/2026) siang.
Kenaikan NTP didorong oleh indeks harga yang diterima petani yang mencapai 186,08, naik 0,63 persen, melampaui kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 135,87 atau naik 0,47 persen. Komoditas penyumbang utama kenaikan harga jual antara lain gabah, kelapa sawit, dan ayam ras pedaging.
Namun demikian, Toto menyoroti dua subsektor yang masih berada di bawah titik impas, yakni peternakan dengan indeks 97,34 dan perikanan tangkap dengan indeks 95,32.
“Walaupun terjadi kenaikan indeks, para petani yang berusaha di bagian peternakan itu secara ekonomis belum balance. Harga yang diterima tidak sebesar harga produksinya,” jelasnya.
Sebaliknya, subsektor tanaman pangan mencatat kinerja terbaik dengan indeks 109,10, tumbuh 2,56 persen dibanding Juni 2026, disusul perikanan budidaya yang naik 0,62 persen menjadi 102,20.
Secara regional, NTP Kalimantan Tengah masih berada di bawah Kalimantan Barat yang mencatat angka tertinggi se-Pulau Kalimantan sebesar 177,56, dan Kalimantan Timur sebesar 146,75. Sementara itu, Kalimantan Selatan tercatat 133,59 dan Kalimantan Utara 119,61, menempatkan Kalimantan Tengah pada posisi ketiga.
BPS menegaskan sektor peternakan dan perikanan tangkap perlu mendapat perhatian khusus agar daya beli pelakunya turut terdongkrak di bulan-bulan mendatang. (mnc-neha)

