Terimakasih
Sempatkanlah untuk klik iklan, karena itu gratis...!
Berita  

Ketua IWAPI Kalteng Sebut Misi Dagang Jatim–Kalteng Melonjak hingga Rp2 Triliun

MAHARATINEWS, Palangka Raya – Siang itu, ruang pertemuan Bahalap Hotel tak sekadar menjadi lokasi seremoni. Di balik meja-meja negosiasi, peluang besar sedang dirajut. Misi dagang dan investasi antara Provinsi Jawa Timur dan Kalimantan Tengah kembali bergerak agresif, membuka jalur baru bagi pelaku usaha menembus pasar nasional hingga internasional.

Ketua IWAPI Kalteng, Asty Rizky Badjuri, menyebut agenda ini sebagai kelanjutan dari fondasi kerja sama yang dibangun sejak 2022. Namun kali ini, skalanya melonjak tajam. “Dulu sekitar Rp200 miliar. Sekarang sudah menyentuh Rp2 triliun. Ini lompatan besar,” ujarnya.

Angka itu bukan sekadar target di atas kertas. Sejumlah transaksi mulai terkunci. Produk lokal mencatat nilai puluhan miliar rupiah, sementara komoditas khas seperti gaharu berhasil menembus pasar ekspor ke Guangzhou, China. Di saat yang sama, pembicaraan baru dibuka untuk komoditas kratom dan patin beku yang dibidik masuk ke pasar Timur Tengah.

Di balik itu, ada satu fakta menarik: kebutuhan ikan di Jawa Timur justru masih tinggi dan belum terpenuhi. Celah ini langsung ditangkap. Negosiasi pengembangan keramba pun mengemuka, bahkan mendapat dukungan pembiayaan hingga Rp20 miliar dari Bank Jatim.

“Ini yang kita cari, pasar yang benar-benar butuh. Jadi pergerakan ekonomi itu nyata,” kata Asty.

Baginya, kekuatan utama dari misi dagang ini bukan hanya transaksi, tetapi jejaring. Banyak pelaku usaha yang sebelumnya ragu menembus ekspor kini mulai melihat jalannya. Ketika koneksi terbuka, pasar tidak lagi terasa jauh.

Fenomena ini juga mendorong sektor lain bergerak. Investasi logam mulia misalnya, mulai dilirik. Produk dari Kalteng dikirim ke Jawa Timur untuk diolah menjadi perhiasan bernilai tinggi, menciptakan rantai ekonomi baru.

Untuk mempercepat langkah, IWAPI turut membuka akses permodalan bersama Bank Rakyat Indonesia. Skema kredit tanpa agunan hingga Rp100 juta disiapkan bagi anggota, termasuk pelaku usaha pemula.

“Banyak yang ingin mulai, tapi bingung dari mana. Di sini kita bantu—dari jaringan sampai modal,” ujarnya.

Di tengah tekanan efisiensi ekonomi, strategi “jemput bola” seperti ini menjadi kunci. Bukan menunggu peluang datang, tetapi aktif membuka pasar.

Dari Palangka Raya, sinyal itu jelas: pelaku usaha daerah tak lagi bermain di level lokal. Mereka mulai menatap dunia. (mnc-red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *