Terimakasih
Sempatkanlah untuk klik iklan, karena itu gratis...!
Berita  

NTP Naik, NTUP Turun: Petani Kalteng Hadapi Tekanan Biaya Produksi yang Kian Berat

NTP Naik, NTUP Turun: Petani Kalteng Hadapi Tekanan Biaya Produksi yang Kian Berat
Plt. Kepala BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Maria Wahyu Utami

MAHARATINEWS, Palangka Raya – Kabar baik datang dari sektor pertanian Kalimantan Tengah. Nilai Tukar Petani (NTP) pada Mei 2026 tercatat naik menjadi 139,72, atau meningkat 0,21 persen dibanding April 2026 yang berada di angka 139,43. Namun di balik kenaikan tersebut, terdapat sinyal peringatan yang tidak bisa diabaikan: biaya usaha pertanian justru semakin membebani petani.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Tengah menunjukkan, pada saat NTP meningkat, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) justru turun 0,95 persen, dari 145,94 menjadi 144,55.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa kenaikan harga hasil pertanian yang diterima petani belum sepenuhnya mampu mengimbangi meningkatnya biaya produksi yang harus mereka keluarkan.

Plt Kepala BPS Kalimantan Tengah, Maria Wahyu Utami, menjelaskan bahwa kenaikan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani naik sebesar 1,66 persen, lebih tinggi dibanding kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 1,45 persen.

“Secara umum daya tukar petani terhadap barang dan jasa mengalami peningkatan. Namun pada sisi usaha pertanian, NTUP justru mengalami penurunan yang menunjukkan adanya tekanan pada biaya produksi dan modal usaha,” ujar Maria saat memimpin rilis statistik di Kantor BPS Kalteng, Selasa (2/6/2026).

BPS mencatat kenaikan NTP terutama didorong oleh subsektor tanaman pangan yang melonjak 2,99 persen serta tanaman perkebunan rakyat yang naik 0,08 persen.

Di sisi lain, rumah tangga perdesaan juga menghadapi kenaikan biaya hidup. Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) pada Mei 2026 meningkat 1,14 persen. Lonjakan terbesar terjadi pada kelompok transportasi sebesar 3,14 persen, disusul perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,05 persen, serta makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,02 persen.

Fenomena NTP naik namun NTUP turun menunjukkan paradoks yang sedang dihadapi petani Kalteng. Harga komoditas memang membaik, tetapi keuntungan usaha belum tentu meningkat karena biaya operasional, sarana produksi, dan kebutuhan rumah tangga terus merangkak naik.

“Ini menjadi perhatian penting. Jika biaya produksi terus meningkat lebih cepat dibanding produktivitas dan efisiensi usaha tani, maka kesejahteraan petani berpotensi tertekan meskipun NTP terlihat membaik,” kata Maria.

Data tersebut menjadi pengingat bahwa peningkatan kesejahteraan petani tidak cukup hanya diukur dari harga jual hasil panen, tetapi juga dari kemampuan petani mengendalikan biaya produksi yang semakin tinggi di tengah dinamika ekonomi perdesaan. (red-fe)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *