Terimakasih
Sempatkanlah untuk klik iklan, karena itu gratis...!
Berita  

Pangeran Syarif Abdurrahman: Hebat! Presiden Prabowo Sedang Melakukan Ofensif Ekonomi, Saya Yakin Rupiah Menuju Rp15.000 per Dolar

Pangeran Syarif Abdurrahman: Hebat! Presiden Prabowo Sedang Melakukan Ofensif Ekonomi, Saya Yakin Rupiah Menuju Rp15.000 per Dolar
Dokumentasi Pribadi: Dr Pangeran Syarif Abdurrahman di KBRI LONDON

MAHARATINEWS, Jakarta – Penguatan fondasi ekonomi nasional melalui hilirisasi industri, penguatan devisa hasil ekspor (DHE), serta upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat mendapat apresiasi dari berbagai kalangan.

Salah satunya datang dari mantan Senator Republik Indonesia, Dr. H. Pangeran Syarif Abdurrahman Bahasyim atau Habib Banua, yang menilai pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tengah menjalankan strategi besar untuk memperkuat posisi rupiah dan kedaulatan ekonomi Indonesia.

Menurut Habib Banua, berbagai kebijakan yang ditempuh pemerintah saat ini bukan lagi bersifat defensif, melainkan sudah memasuki fase “ofensif ekonomi” yang bertujuan memperkuat posisi Indonesia dalam percaturan ekonomi global.

“Hebat. Presiden Prabowo sedang melakukan ofensif ekonomi. Saya melihat ada keberanian besar dalam membangun fondasi ekonomi nasional. Jika konsisten dijalankan, saya yakin rupiah bisa menuju Rp15.000 per dolar Amerika Serikat,” ujar Habib Banua dalam keterangannya, Selasa (2/6/2026).

Habib Banua menilai penguatan rupiah tidak dapat dipisahkan dari kebijakan hilirisasi sumber daya alam yang terus diperluas. Selama bertahun-tahun Indonesia lebih banyak mengekspor bahan mentah dengan nilai tambah rendah. Kini pemerintah mendorong pengolahan komoditas strategis seperti nikel, tembaga, bauksit, hingga mineral kritis lainnya di dalam negeri.

“Ketika kita menjual produk bernilai tambah tinggi, devisa yang masuk akan jauh lebih besar. Ini memperkuat neraca perdagangan dan memperkokoh posisi rupiah,” katanya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan selama beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang menopang stabilitas cadangan devisa dan menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

Selain hilirisasi, Habib Banua juga menyoroti kebijakan penempatan devisa hasil ekspor (DHE) di dalam negeri. Menurutnya, langkah tersebut merupakan keputusan strategis karena memperkuat likuiditas dolar dalam sistem perbankan nasional.

“Dulu banyak dolar hasil ekspor yang parkir di luar negeri. Sekarang pemerintah mulai menertibkan. Ketika dolar hasil ekspor masuk ke dalam negeri, pasokan valas meningkat, cadangan devisa menguat, dan tekanan terhadap rupiah berkurang,” jelasnya.

Ia menambahkan, penguatan rupiah pada akhirnya bukan sekadar persoalan kurs, tetapi berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Rupiah yang lebih kuat akan membantu menekan biaya impor, menjaga inflasi, serta meningkatkan daya beli rakyat.

“Target akhirnya bukan sekadar angka Rp15.000 per dolar. Yang lebih penting adalah bagaimana rakyat merasakan harga yang lebih stabil, lapangan kerja bertambah, dan ekonomi nasional semakin mandiri,” tegas Habib Banua.

Menurutnya, kombinasi antara hilirisasi, penguatan DHE, peningkatan investasi industri, dan keberanian pemerintah mengambil keputusan strategis menjadi modal penting bagi Indonesia untuk keluar dari ketergantungan lama terhadap ekonomi berbasis komoditas mentah. Jika dijalankan secara konsisten dan profesional, ia optimistis Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi utama di kawasan Asia Tenggara. (mnc-red) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *