MAHARATINEWS, Jakarta — Di tengah arus perubahan zaman, sebuah peristiwa sarat makna mempertemukan dua warisan besar Nusantara, yakni Kerajaan Muna dan Kesultanan Banjar. Pertemuan tersebut tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi ruang mempererat nilai sejarah, budaya, dan kehormatan yang telah lama terjalin antarwilayah.
Pertemuan ini difasilitasi oleh Dr. H Pangeran Syarif Abdurrahman Bahasyim atau yang akrab disapa Habib Banua, seorang tokoh masyarakat yang dikenal aktif dalam menjembatani berbagai kepentingan sosial dan budaya.
Dengan pendekatan yang sejuk dan penuh kebijaksanaan, Habib Banua mempertemukan Raja Muna, La Ode Riago, dengan Sultan Banjar, Pangeran H. Khairul Saleh, dalam suasana yang kental dengan nuansa adat dan penghormatan terhadap tradisi.
“Pertemuan ini bukan hanya tentang dua tokoh, tetapi tentang bagaimana kita merawat sejarah, menjaga persaudaraan, dan memperkuat nilai persatuan di tengah keberagaman,” ujar Habib Banua.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin adat duduk sejajar sebagai pewaris peradaban, membahas tidak hanya jejak masa lalu, tetapi juga memperkuat komitmen untuk menjaga hubungan lintas budaya di masa depan.

Raja Muna, La Ode Riago, menegaskan pentingnya menjaga marwah adat dalam setiap langkah kebudayaan. “Kami ingin memastikan bahwa nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur tetap hidup dan menjadi pedoman generasi mendatang,” katanya.
Sementara itu, Sultan Banjar, Pangeran H. Khairul Saleh, menilai pertemuan tersebut sebagai momentum penting untuk memperkuat ikatan sejarah antarwilayah. “Silaturahmi seperti ini menjadi fondasi dalam menjaga kehormatan dan mempererat hubungan antarbangsa di Nusantara,” ujarnya.
Habib Banua, yang juga merupakan doktor lulusan Universitas Halu Oleo Kendari, menegaskan bahwa peran ilmu pengetahuan harus mampu menjadi jembatan pemersatu.
“Ilmu bukan sekadar simbol, tetapi harus menjadi kekuatan untuk menyatukan dan menghadirkan makna dalam kehidupan bermasyarakat,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa pertemuan tersebut merupakan wujud nyata upaya menjaga kesinambungan nilai adat dan budaya agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
Pertemuan ini menjadi simbol bahwa warisan budaya dan kehormatan tidak lekang oleh waktu, selama terus dirawat dengan kesungguhan dan keikhlasan. (mnc-red)

