Terimakasih
Sempatkanlah untuk klik iklan, karena itu gratis...!

Minyakita Rp21 Ribu, Bambang Irawan: Sawit Kalteng Untungnya untuk Siapa?

Minyakita Rp21 Ribu, Bambang Irawan: Sawit Kalteng Untungnya untuk Siapa?
Wakil Ketua Komisi II DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, Bambang Irawan

MAHARATINEWS, Palangka Raya Kenaikan harga minyak goreng bersubsidi merek Minyakita di pasaran kembali menjadi perhatian serius di Kalimantan Tengah. Kondisi ini dinilai tidak sejalan dengan potensi besar daerah sebagai salah satu penghasil kelapa sawit terbesar di Indonesia.

Wakil Ketua Komisi II DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, Bambang Irawan, S.St.Pi., mengungkapkan bahwa harga Minyakita di sejumlah titik penjualan saat ini telah mencapai sekitar Rp21.000 per liter.

Untuk wilayah Palangka Raya saja, harga tersebut jauh melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp15.700 per liter yang telah ditetapkan Pemerintah.

Dengan demikian, harga yang dibayar masyarakat mencapai sekitar Rp5.300 per liter lebih tinggi dari ketentuan yang berlaku atau melonjak lebih dari 33 persen di atas HET.

“Ini tentu menjadi perhatian serius. Di satu sisi Kalimantan Tengah merupakan daerah penghasil sawit yang besar, tetapi di sisi lain masyarakat masih harus membeli Minyakita dengan harga yang jauh di atas ketentuan pemerintah,” kata Bambang, Senin (15/6/2026).

Menurutnya, daerah seharusnya mampu mengembangkan industri hilir, khususnya pengolahan Crude Palm Oil (CPO) menjadi minyak goreng siap konsumsi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lokal. Namun hingga kini, manfaat ekonomi dari besarnya produksi sawit dinilai belum sepenuhnya dirasakan masyarakat.

Bambang menduga terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan tingginya harga Minyakita, mulai dari persoalan perizinan, kewenangan, hingga kemungkinan adanya praktik yang menghambat distribusi produk bersubsidi tersebut.

Ia juga menyoroti keberadaan perusahaan yang memiliki kemampuan memproduksi minyak goreng, tetapi produksinya lebih banyak digunakan untuk kebutuhan internal sehingga belum memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas pasokan di pasar.

“Seharusnya ini bisa kita dorong agar produksi minyak goreng lokal, termasuk Minyakita, benar-benar terbuka untuk masyarakat,” ujarnya.

Selain itu, Bambang menilai pemerintah perlu memperkuat pengawasan distribusi guna memastikan harga Minyakita di lapangan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Ia juga mendorong adanya komunikasi dan pemanggilan pihak-pihak terkait untuk menelusuri penyebab tingginya harga yang masih terjadi di pasaran.

Menurutnya, Kalimantan Tengah tidak boleh hanya menjadi pemasok bahan baku sawit, tetapi harus mampu membangun industri hilir yang kuat agar nilai tambah ekonomi dapat dinikmati masyarakat, termasuk melalui ketersediaan minyak goreng dengan harga yang terjangkau. (mnc-neha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *