MAHARATINEWS, Surabaya — Bagi sebagian orang, mengikuti lomba marathon membutuhkan persiapan panjang. Namun, bagi Hakim Ad Hoc Andreas Eno Tirtakusuma, olahraga lari justru menjadi bagian dari aktivitas yang terus dijalani di tengah kesibukannya.
Pria yang akrab disapa “Eno Tirta” di kalangan pelari itu kembali mencatatkan pengalaman marathon pada BTN UI Green Marathon 2026 dengan catatan waktu 5 jam 23 menit, yang berlangsung di kawasan Universitas Indonesia (UI), Minggu (9/8/2026).
Sebelumnya, Eno Tirta terlebih dahulu mengikuti Le Minerale Surabaya Marathon 2026 pada Minggu (2/8/2026). Artinya, dalam rentang waktu hanya satu pekan, Eno Tirta berhasil menyelesaikan dua ajang marathon di dua kota berbeda.
“Dua marathon dalam waktu berdekatan tentu bukan sesuatu yang mudah. Tetapi selama kita punya kemauan, menjaga disiplin, dan tahu batas kemampuan tubuh, semuanya bisa dijalani. Yang terpenting adalah terus bergerak dan menikmati setiap prosesnya,” katanya.
Untuk diketahui, BTN UI Green Marathon 2026 sendiri berlangsung dengan suasana meriah. Sekitar 3.500 pelari memadati kawasan Universitas Indonesia sejak Minggu pagi.
Ajang tersebut tidak hanya mengedepankan olahraga, tetapi juga membawa pesan lingkungan. Setiap peserta yang berhasil mencapai garis finis mendapatkan bibit pohon yang selanjutnya dapat ditanam di kawasan kampus UI.
Konsep tersebut menjadikan BTN UI Green Marathon sebagai perpaduan antara olahraga, gaya hidup sehat, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Sementara itu, Le Minerale Surabaya Marathon 2026 yang berlangsung sepekan sebelumnya diikuti sekitar 7.000 peserta. Mengusung konsep City Run, para pelari diajak melewati sejumlah kawasan ikonik Surabaya, seperti Tugu Pahlawan, Kota Lama Surabaya hingga Jalan Tunjungan.
Bagi Eno Tirta, dua marathon tersebut bukan sekadar catatan waktu. Konsistensi menyelesaikan lomba jarak jauh dalam waktu berdekatan menunjukkan komitmennya menjaga kebugaran sekaligus mempertahankan semangat berlari di tengah aktivitas profesionalnya.
“Lari mengajarkan saya bahwa setiap langkah punya arti. Tidak harus selalu cepat, yang penting terus bergerak dan jangan berhenti ketika menghadapi rasa lelah. Menyelesaikan marathon bukan hanya tentang mencapai garis finis, tetapi tentang bagaimana kita mampu mengalahkan rasa ingin menyerah dalam diri sendiri,” pungkasnya. (mnc-red)

