Terimakasih
Sempatkanlah untuk klik iklan, karena itu gratis...!

Budaya Dayak dan Tantangan Kebangkitan Menjaga Identitas di Tengah Modernisasi

Budaya Dayak dan Tantangan Kebangkitan Menjaga Identitas di Tengah Modernisasi
Dok. Acara Karnaval Budaya FBIM 2026 di Palangka Raya.

Di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi, masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah menghadapi tantangan besar untuk menjaga identitas budaya mereka. Perubahan gaya hidup, perkembangan teknologi digital, hingga derasnya budaya populer luar perlahan menggeser perhatian generasi muda dari akar tradisi leluhur. Namun, di tengah perubahan zaman itu, semangat kebangkitan budaya terus menyala dari jantung Borneo.

Momentum Hari Kebangkitan Nasional tidak lagi hanya dimaknai sebagai perjuangan melawan penjajahan, tetapi juga perjuangan mempertahankan identitas bangsa di tengah modernisasi dunia. Di Kalimantan Tengah, semangat itu hidup melalui pelestarian budaya Dayak yang terus diwariskan lintas generasi.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah setiap tahun memperingati Hari Jadi Provinsi dengan menggelar Festival Budaya Isen Mulang atau FBIM. Festival budaya terbesar di Bumi Tambun Bungai itu bukan sekadar perayaan seremonial, tetapi menjadi panggung kebangkitan budaya lokal di era modern.

FBIM telah digelar sejak 1993 dan kini menjadi agenda budaya tahunan yang masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata RI. Festival ini menampilkan berbagai atraksi budaya Dayak mulai dari tari tradisional, permainan rakyat, olahraga tradisional, kuliner khas, kerajinan lokal, hingga ritual adat yang melibatkan seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah.

Tema “Spirit of Isen Mulang” atau semangat pantang menyerah menjadi simbol bagaimana masyarakat Dayak menjaga warisan budaya di tengah perubahan zaman. Filosofi Isen Mulang sendiri memiliki makna perjuangan tanpa menyerah, sebuah nilai yang hingga kini masih hidup dalam kehidupan masyarakat Dayak.

Modernisasi memang membawa kemajuan. Teknologi digital membuka akses pendidikan, ekonomi, dan informasi tanpa batas. Namun, modernisasi juga membawa tantangan serius terhadap eksistensi budaya lokal. Banyak generasi muda mulai meninggalkan bahasa daerah, pakaian adat, hingga tradisi lisan yang selama ratusan tahun menjadi identitas masyarakat Dayak.

Fenomena itu terlihat dari semakin berkurangnya penggunaan bahasa Dayak dalam kehidupan sehari-hari di perkotaan. Tidak sedikit anak muda yang lebih akrab dengan budaya populer global dibanding memahami filosofi Huma Betang, sebuah konsep hidup masyarakat Dayak yang menjunjung kebersamaan, toleransi, dan persatuan.

Padahal, nilai-nilai lokal seperti Huma Betang justru relevan dengan kehidupan modern Indonesia yang majemuk. Di tengah meningkatnya polarisasi sosial dan derasnya arus informasi digital, falsafah hidup masyarakat Dayak menawarkan pelajaran penting tentang harmoni dan penghormatan terhadap keberagaman.

Karena itu, pelestarian budaya tidak bisa hanya mengandalkan komunitas adat. Pemerintah daerah, dunia pendidikan, hingga generasi muda harus mengambil peran bersama. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata terus mendorong pelestarian budaya melalui festival, pembinaan sanggar seni, promosi wisata budaya, hingga pemberdayaan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.

FBIM menjadi contoh nyata bagaimana budaya tidak hanya dijaga, tetapi juga diangkat menjadi kekuatan ekonomi dan pariwisata daerah. Festival tersebut mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara untuk datang menyaksikan kekayaan budaya Dayak secara langsung.

Selain menjadi panggung budaya, FBIM juga membuka ruang bagi pelaku UMKM lokal untuk memperkenalkan produk khas Kalimantan Tengah. Kerajinan rotan, anyaman khas Dayak, kain batik Benang Bintik, hingga kuliner tradisional mendapat perhatian lebih luas melalui festival tersebut.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif terus menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi daerah. Karena itu, pelestarian budaya sejatinya bukan hanya menjaga masa lalu, tetapi juga investasi masa depan daerah.

Di era digital saat ini, kebangkitan budaya juga harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Generasi muda Dayak mulai memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan tarian tradisional, musik daerah, hingga cerita rakyat kepada dunia. Konten budaya kini menjadi wajah baru perjuangan identitas di ruang digital.

Kebangkitan nasional hari ini bukan lagi perang mengangkat senjata, melainkan perjuangan menjaga jati diri bangsa agar tidak hilang ditelan zaman. Dari Kalimantan Tengah, semangat itu terus hidup melalui budaya Dayak yang tetap berdiri kokoh di tengah modernisasi.

Melalui Festival Budaya Isen Mulang, masyarakat Kalimantan Tengah menunjukkan bahwa budaya lokal tidak boleh hanya menjadi pajangan masa lalu. Budaya harus hidup, berkembang, dan mampu bersaing menuju panggung dunia tanpa kehilangan akar identitasnya.

Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang maju teknologinya, tetapi bangsa yang mampu menjaga warisan budayanya di tengah perubahan zaman.

Penulis: Perdi Kastolani, S.Sos.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *