Terimakasih
Sempatkanlah untuk klik iklan, karena itu gratis...!
Berita  

Pangeran Syarif Abdurrahman: Eksportir yang Simpan Dolar di Luar Negeri Adalah Pengkhianat Bangsa

Pangeran Syarif Abdurrahman: Eksportir yang Simpan Dolar di Luar Negeri Adalah Pengkhianat Bangsa
Dokumentasi: di Universitas Indonesia didampingi Dekan fakultas ekonomi dan bisnis 2021-2025 teguh Dartanto Ph.D

MAHARATINEWS, Palangka Raya – Di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan kebutuhan likuiditas dolar di dalam negeri, mantan Senator Republik Indonesia, Dr. H. Pangeran Syarif Abdurrahman Bahasyim atau Habib Banua, melontarkan kritik keras terhadap eksportir yang memilih menyimpan devisa hasil ekspor (DHE) di luar negeri. Menurutnya, praktik tersebut bukan sekadar persoalan bisnis, melainkan bentuk pengkhianatan terhadap kepentingan bangsa.

Habib Banua menegaskan, hasil bumi Indonesia diambil dari tanah negeri sendiri, dikerjakan oleh tenaga rakyat Indonesia, namun keuntungan dalam bentuk dolar justru disimpan di luar negeri dan tidak kembali memperkuat ekonomi nasional.

“Hasil bumi dari Indonesia, rakyat yang bekerja, SDA diambil dari negeri ini, tetapi dolar hasil ekspornya malah disimpan di luar negeri. Itu pengkhianatan terhadap bangsa,” tegas Habib Banua, dalam keterangan resminya, Rabu (20/5/2026).

Ia menjelaskan, ketika dolar hasil ekspor tidak masuk ke sistem keuangan domestik, Indonesia kehilangan likuiditas valuta asing yang sangat dibutuhkan untuk menjaga kestabilan rupiah, membiayai impor strategis, hingga memperkuat cadangan devisa nasional.

Bank Indonesia sebelumnya mencatat kebijakan penempatan DHE SDA di dalam negeri mulai meningkatkan pasokan dolar domestik dan memperkuat likuiditas pasar valas nasional. Masuknya dolar ekspor ke perbankan nasional dinilai membantu menjaga kestabilan kurs rupiah di tengah tekanan global.

Menurut Habib Banua, logika ekonominya sangat sederhana. Ketika sebuah negara mengalami surplus ekspor, seharusnya permintaan terhadap mata uang negara tersebut ikut meningkat. Dalam kondisi normal, rupiah semestinya lebih kuat karena Indonesia menjual lebih banyak barang ke luar negeri dibanding membeli.

“Masalahnya, dolar hasil penjualan ekspor itu banyak yang hanya tercatat di atas kertas, tetapi fisiknya tidak pernah benar-benar masuk ke Indonesia. Rakyat hanya kebagian inflasi dan kerusakan lingkungan, sementara dolarnya parkir cantik di luar negeri,” ujarnya.

Ia menilai kondisi tersebut menciptakan paradoks ekonomi nasional. Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah, mulai dari batu bara, sawit, hingga mineral, tetapi justru kerap mengalami tekanan kurs dan kekurangan likuiditas dolar di pasar domestik.

Habib Banua juga menyoroti dugaan praktik spekulasi yang memanfaatkan dolar ekspor Indonesia di pusat-pusat keuangan luar negeri. Menurutnya, dana yang tersimpan di luar negeri kemudian diputar kembali dalam transaksi finansial global yang justru menekan nilai rupiah.

“Kita yang punya alamnya, kita yang menanggung kerusakan lingkungannya, rakyat kita yang bekerja, tetapi negara lain yang menikmati likuiditas dolarnya. Ini bukan sekadar dinamika global, tetapi bentuk sabotase ekonomi yang merugikan bangsa sendiri,” katanya.

Ia meminta pemerintah bertindak lebih tegas terhadap eksportir yang tidak menempatkan devisa hasil ekspor di dalam negeri. Habib Banua menegaskan, kekayaan alam Indonesia seharusnya menjadi kekuatan untuk memperkokoh ekonomi nasional, memperkuat rupiah, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat, bukan justru memperkaya sistem keuangan negara lain. (mnc-red) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *