MAHARATINEWS, Jakarta – Tokoh nasional asal Pulau Kalimantan, Dr. H. Pangeran Syarif Abdurrahman Bahasyim atau Habib Banua, mengajak seluruh elemen bangsa untuk memperkuat persatuan di tengah berbagai tekanan yang sedang dihadapi perekonomian Indonesia. Menurutnya, selain menghadapi tantangan internal, Indonesia juga berhadapan dengan tekanan eksternal yang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi dan kepercayaan pasar.
Habib Banua menilai kondisi yang terjadi saat ini tidak bisa semata-mata dilihat dari persoalan domestik. Ia mengaku melihat adanya indikasi tekanan ekonomi yang muncul setelah pemerintah memperkuat berbagai kebijakan strategis, termasuk aturan penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) sumber daya alam di dalam negeri, pelemahan rupiah bukan karena fundamental ekonomi Indonesia lemah, tapi karena indikasi kuat adanya intervensi dari negara negara yg tdk suka Indonesia mandiri dan berdaulat dalam mengelola sumber daya alam dan ekonomi kita.
“Saya melihat ada pihak-pihak yang tidak nyaman dengan langkah Indonesia memperkuat kedaulatan ekonominya. Ketika pemerintah mewajibkan devisa hasil ekspor kembali ke dalam negeri, tentu ada kepentingan yang terganggu. Karena itu rakyat harus bersatu menghadapi situasi ini,” ujarnya.
Habib Banua menjelaskan bahwa secara fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih menunjukkan kinerja yang relatif kuat. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di kisaran 5 persen, sementara inflasi tetap terkendali dalam rentang sasaran pemerintah. Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia juga masih berada pada level yang dinilai cukup aman untuk menopang stabilitas ekonomi nasional.
Menurutnya, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan ketika tekanan terhadap rupiah dan pasar keuangan terjadi secara berlebihan dibandingkan negara-negara lain yang memiliki fundamental serupa.
“Kalau fundamental ekonomi masih baik, tetapi sentimen negatif terus dibangun, tentu kita harus waspada. Jangan sampai masyarakat ikut terjebak dalam narasi pesimisme yang justru memperlemah bangsa sendiri,” katanya.
Habib Banua juga menyoroti posisi Singapura sebagai pusat keuangan regional yang selama ini menjadi tempat parkir berbagai aliran modal internasional. Ia menduga kebijakan DHE yang mewajibkan sebagian devisa hasil ekspor ditempatkan di perbankan nasional berpotensi mengurangi likuiditas yang selama ini mengalir ke luar negeri.
“Ketika dolar hasil ekspor disimpan di Indonesia, likuiditas dalam negeri meningkat. Ini memperkuat perbankan nasional, memperbesar cadangan devisa, dan mengurangi ketergantungan terhadap pembiayaan luar negeri. Wajar jika ada pihak yang tidak senang,” ujarnya.
Meski demikian, Habib Banua menegaskan bahwa pemerintah juga harus melakukan pembenahan di dalam negeri. Ia menyoroti pentingnya komunikasi publik yang baik, kepastian hukum, transparansi kebijakan, serta perbaikan tata kelola ekonomi agar kepercayaan investor tetap terjaga.
Kita harus berani memperbaiki kelemahan sendiri. Persatuan rakyat, tata kelola yang baik, dan keberanian mempertahankan kepentingan nasional adalah kunci agar Indonesia tetap kuat menghadapi berbagai tekanan,” tegasnya.
Menurut Habib Banua, kritik terhadap pemerintah merupakan hal yang wajar dalam demokrasi. Namun ia mengingatkan agar kritik tidak berubah menjadi ujaran kebencian yang justru memperlemah posisi bangsa di tengah persaingan global yang semakin ketat.
“Boleh mengkritik, tetapi jangan menghina negara sendiri. Tidak ada bangsa yang bisa maju jika rakyatnya kehilangan kepercayaan terhadap masa depan negaranya. Saatnya kita bersatu menjaga Indonesia,” pungkas mantan Senator Republik Indonesia tersebut. (mnc-red)

