MAHARATINEWS, Palangka Raya – Laju kenaikan harga di Kalimantan Tengah pada Juni 2026 menunjukkan perbedaan yang cukup mencolok antarwilayah. Dari empat kabupaten yang menjadi cakupan Indeks Harga Konsumen (IHK), Kabupaten Kapuas mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) tertinggi sebesar 5,01 persen, sementara Kabupaten Sukamara menjadi daerah dengan inflasi terendah, yakni 3,81 persen.
Perbedaan tersebut menggambarkan adanya variasi tekanan harga di masing-masing daerah, meski secara umum seluruh wilayah pemantauan mengalami inflasi.
Plt. Kepala BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Maria Wahyu Utami, mengatakan inflasi tahunan Provinsi Kalimantan Tengah pada Juni 2026 tercatat sebesar 4,47 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 112,61.
“Kabupaten Kapuas menjadi daerah dengan inflasi year-on-year tertinggi sebesar 5,01 persen, sedangkan inflasi terendah terjadi di Kabupaten Sukamara sebesar 3,81 persen,” kata Maria Wahyu Utami, Rabu (1/7/2026).
Selain secara tahunan, seluruh daerah pemantauan juga mengalami inflasi bulanan (month-to-month). Kapuas kembali mencatat angka tertinggi dengan inflasi 0,33 persen, sedangkan Sukamara menjadi yang terendah sebesar 0,13 persen.
Menurut Maria, inflasi di Kalimantan Tengah dipicu oleh kenaikan harga di hampir seluruh kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman dan tembakau, transportasi, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang terbesar terhadap kenaikan Indeks Harga Konsumen.
Sejumlah komoditas yang paling dominan mendorong inflasi antara lain beras, bensin, minyak goreng, ikan nila, ikan patin, cabai rawit, bahan bakar rumah tangga, angkutan udara, hingga emas perhiasan. Kenaikan harga komoditas tersebut terjadi hampir di seluruh wilayah pemantauan, meski besaran dampaknya berbeda-beda.
Di sisi lain, beberapa komoditas justru membantu menahan laju inflasi. Harga daging ayam ras, terong, kelapa, buah naga, cumi-cumi, dan sejumlah bahan pangan lainnya mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
BPS menilai perbedaan tingkat inflasi antarwilayah dipengaruhi oleh kondisi pasokan, distribusi barang, serta karakteristik konsumsi masyarakat di masing-masing daerah. Karena itu, pengendalian inflasi memerlukan langkah yang disesuaikan dengan kondisi lokal, terutama menjaga kelancaran distribusi pangan dan stabilitas harga kebutuhan pokok agar daya beli masyarakat tetap terjaga. (mnc-neha)

